BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi tua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orang tua. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Sebaiknya para orang tua jangan terlalu menekan si remaja untuk melakukan sesuatu seperti keinginan orang tua yang pada akhirnya menimbulkan trauma pada si remaja itu sendiri. . Orang tua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak-tanduk si remaja.
Masa remaja adalah masa transisi dan secara psikologis sangat problematis yang ditandai dengan dua ciri yang berlawanan, yaitu adanya keinginan untuk melakukan perlawanan dan sikap apatis, dimana pada satu sisi belum mempunyai pegangan dan disisi lain kepribadian sedang mencari identitas atau jati diri. Badan Koordinasi Nasional Kesejahteraan Keluarga dan Anak-Anak (BKN-KKA) mengemukakan bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 17 tahun. Masa remaja menjelang dewasa ini memiliki sifat-sifat menonjol yang perlu mendapatkan perhatian dari pihak orangtua dalam pembinaannya. Anak mengalami masa strum und drang atau masa rekonstruksi. Emosi anak dapat timbul dengan cepatnya sehingga menimbulkan kemauan-kemauan yang keras. Ia mulai sadar tentang dirinya sendiri dan ingin melepaskan diri dari segala bentuk kekangan dan berontak terhadap norma-norma yang berlaku tidak sesuai kehendaknya. Ia menunjukkan tingkah laku seolah-olah sudah dewasa, ia merekonstruksi dirinya sendiri. Dalam kebimbangan ia tidak mau dipimpin, karena itu masa ini dapat menimbulkan krisis. Ciri lainnya ialah penuh idealisme, memiliki daya khayal untuk mengidentifikasi dirinya dengan yang serba kuat dan hebat, cenderung melawan otoritas dan sering mengalami frustrasi.
Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa pencarian jati diri. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
Apa saja bentuk-bentuk kenakalan remaja di kalangan remaja ?
Apa faktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja ?
Apa akibat yang ditimbulkan dari kenakalan remaja tersebut ?
Bagaimana upaya untuk mengatasi kenakalan remaja ?
1.3 Pengertian
1. Definisi kenakalan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kenakalan dengan kata dasar nakal adalah suka berbuat tidak baik, suka mengganggu, dan suka tidak menurut. Sedangkan kenakalan adalah perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat mengganggu ketenangan orang lain; tingkah laku yang melanggar norma kehidupan masyarakat. Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Definisi kenakalan remaja menurut para ahli, salah satunya adalah Kartono seorang ilmuwan sosiologi mengemukakan pendapatnya bahwa kenakalan remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan isltilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian social. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku menyimpang. Dan Santrock mengatakan bahwa “ Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
2. Definisi remaja
Masa remaja adalah masa transisi/peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Istilah “Remaja” berasal dari bahasa latin “Adolescere” yang berarti remaja. Mencakup kematangan mental, emosi, sosial, dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh Jhon Pieget, “Secara psikologis masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia saat anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua, melainkan berada pada tingkat yang sama.”
1.4 Tujuan
Makalah ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja.
1.5 Manfaat
Makalah ini disusun untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja dan mencari cara untuk mengatasinya.
1.6 Ruang Lingkup
Berbicara tentang kenakalan remaja sungguh sangat luas sekali dan mungkin tidak akan cukup kalau hanya dituangkan dalam tulisan in, sehingga demi terfokusnya pembahasan maka penulis hanya akan membatasi pada :
Jenis-jenis kenakalan remaja,
Sebab-sebab kenakalan remaja.
Akibat-akibat kenakalan remaja,
Cara mengatasi kenakalan remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis – Jenis Kenakalan Remaja
Bentuk kenakalan remaja dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Kenakalan yang tergolong pelanggaran hukum atau kejahatan yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau undang-undang lainnya dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.
2. Kenakalan yang tergolong pelanggaran norma sosial dan norma-norma lainnya, tetapi yang belum/ tidak diatur dalam KUHP atau undang-undang lainnya, atau tingkah laku/ perbuatan anak-anak yang cukup menyulitkan atau cukup tidak dimengerti orangtua maupun masyarakat pada umumnya. Bentuk-bentuk kenakalan anak-anak yang dimaksud antara lain:
• Menentang orangtua/ guru
• Berpakaian yang tidak sopan (tidak diterima oleh masyarakat umum)
• Sering membolos, tidak bersekolah
• Berpesta semalam suntuk
• Membaca buku-buku porno atau menonton film cabul
• Sering berkelahi dan keluar malam yang tidak berguna
• Mengebut di jalan raya, selalu meminta uang kepada orangtua, mencoret-coret di jalanan/ tembok-tembok
• Minum minuman keras, merokok di tempat umum sebelum batas umur yang ‘pantas
2.2 Penyebab Kenakalan Remaja
Penyebab kenakalan dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat primer dan yang bersifat sekunder.
Sebab primer
1) Faktor pembawaan :
Cacat lahir/ keturunan yang bersifat biologis/ psikis
Pembawaan/ bakat yang negatif dan sukar untuk diarahkan/ dikendalikan
Pemenuhan kebutuhan pokok yang tidak seimbang dengan kebutuhan anak
Kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
Pengendalian diri kurang terhadap hal-hal yang negatif, daya tahan lemah
Tidak punya kegemaran yang sehat sehingga anak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif
2) Faktor lingkungan orang tua / keluarga :
Rasa kasih sayang yang tidak adil/ merata terhadap anak-anak
Kelahiran yang tidak diinginkan orangtua yang bersangkutan
Disharmoni dan broken-home dalam rumah tangga orangtua
Kesibukan-kesibukan orangtua karena alasan ekonomi
Kurang mengetahui cara-cara mendidik anak yang baik
Kurang contoh/ teladan yang baik dari orangtua
Kurang memberikan dasar pendidikan agama, mental serta disiplin dan tanggung jawab oleh orangtua
Sebab sekunder
1) Faktor lingkungan sekolah :
Rasio guru-murid terlalu besar
Kurangnya tenaga guru yang memenuhi syarat
Biaya pendidikan yang cukup tinggi
Kesibukan guru mencari tambahan penghasilan
Peraturan yang sering berubah: kurikulum, metoda, dan sebagainya
Kurangnya kerjasama guru dan orangtua murid
Penilaian masyarakat/ orangtua yang kurang terhadap tugas-tugas guru, berakibat mengurangi wibawa guru
2) Faktor lingkungan masyarakat :
Faktor-faktor: politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan yang kurang menguntungkan perkembangan dan pertumbuhan anak
Pengawasan orangtua/ guru/ masyarakat masih kurang
Kurang tempat penyaluran kegiatan remaja
Kurang diikutsertakannya anak/ remaja dalam kegiatan kemasyarakatan
Cara pendekatan terhadap anak/ remaja yang kurang tepat
Kurang contoh/ teladan yang positif dari orangtua/ guru/ masyarakat, terutama oleh pejabat/ penegak hukum
Kurangnya penghargaan masyarakat terhadap prestasi anak yang positif
Faktor sosial-politik, sosial-ekonomi, masalah urbanisasi, penyakit masyarakat, kebudayaan/ teknologi/ kesehatan mental rakyat dan sebagainya, yang belum wajar dan mempercepat timbulnya kenakalan anak.
2.3 Akibat Kenakalan Remaja
Adapun akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja ada tiga, antara lain sebagai berikut :
1. Bagi diri remaja itu sendiri
Akibat dari kenakalan yang dia lakukan akan berdampak negatif pada dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Kenakalan yang dilakukan yang berdampak bagi fisik yaitu sering terserang berbagai penyakit karena gaya hidup yang tidak teratur. Sedangkan dalam segi mental maka pelaku kenakalan remaja tersebut akan mengantarkannya kepada mental-mental yang terkesan lembek, pola berpikirnya tidak stabil, dan kepribadiannya akan terus menyimpang dari segi moral sehingga pada akhirnya akan
menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu akan terus berlangsung selama tidak ada yang mengarahkan.
2. Bagi keluarga
Anak yang merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Apabila anaknya ber kelakuan menyimpang dari ajaran agama akan berakibat terjadi ketidakharmonisan di dalam keluarga, komunikasi antara orang tua dan anak akan terputus. Akibat dari keadaan ini ialah anak remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras, dan mengonsumsi narkotika. Hal ini menyebabkan keluarga merasa malu serta kecewa dengan apa yang diperbuat oleh remaja. Yang mana kesemuanya itu hanya semata untuk melampiaskan rasa kekecewaan si remaja saja terhadap apa yang terjadi di dalam kehidupannya.
3. Bagi lingkungan masyarakat
Di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya para remaja sering bertemu orang dewasa atau para orang tua, baik itu di tempat ibadah ataupun di tempat lainnya, yang mana nantinya apapun yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua itu akan menjadi panutan bagi kaum remaja. Dan apabila remaja sekali saja berbuat kesalahan, dampaknya akan buruk bagi dirinya, dan keluarga. Sehingga masyarakat menganggap remajalah yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukkan ataupun menganggu ketentraman masyarakat. Dan untuk mengubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.
2.4 Cara Mengatasi Kenakalan Remaja
Sebagian besar orang tua di zaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengawasi apa saya yang dilakukan oleh anak-anaknya. Padahal kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan yang cenderung negatif. Oleh karena itu, sebagai orang tua maupun remaja untuk mengatasi kenakalan remaja dianggap perlu melakukan kiat-kiat sebagai berikut :
1. Mencari figur yang dapat memberi teladan
Banyak remaja yang melakukan perilaku menyimpang karena mengidolakan seorang figur seperti orang dewasa yang ternyata memberikan pengaruh buruk atau negatif bagi para remaja itu sendiri. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Motivasi dari lingkungan sekitar
Sebagian besar remaja yang melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang disebabkan karena kurangnya kepedulian dari orang tua untuk mendidik anaknya secara baik. Oleh karena itu solusi untuk mengatasi kenakalan remaja itu sendiri adalah dengan adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama yang telah
disebutkan di atas. Sehingga dengan adanya motivasi, diharapkan para remaja akan dengan sendirinya menyadari bahwa perbuatannya telah menyimpang dan merugikan orang banyak
termasuk dirinya sendiri. Kemudian pada akhirnya remaja ini akan berubah menjadi seorang anak yang kembali patuh pada orang tua dan melanjutkan kewajibannya sebagai generasi penerus bangsa.
3. Menciptakan komunikasi antara orang tua dan remaja
Salah satu penyebab kenakalan remaja adalah karena disharmonisasi dan broken-home dalam rumah tangga orang tua. Tentunya untuk menanggulangi kenakalan remaja yang telah terjadi, maka harus ada kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif dan nyaman bagi remaja.
4. Membentuk ketahanan diri
Banyak remaja yang terjerumus dalam pergaulan yang cenderung bersifat negatif karena lemahnya kontrol diri para remaja. Hal ini mungkin terjadi karena pada masa seperti itu, pola pikiran remaja cenderung belum stabil sehingga tidak dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah. Untuk itu sebagai remaja, perlu adanya pertahanan diri yang cukup kuat agar tidak terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
5. Menbentuk dasar iman yang kuat
Perlunya pembelajaran agama berupa pembinaan moral dan akhlak itu sendiri, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya. Niscaya dengan melakukan ini semua maka anak kembali kepada jalan yang benar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari ulasan yang telah dijelaskan dalam dua bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Penyebab terjadinya kenakalan remaja dapat dibedakan menjadi sebab primer atau utama dan sebab sekunder atau sampingan. Sebab primer antara lain karena kontrol diri dari remaja itu sendiri sangat kurang sehingga tidak dapat mengendalikan diri terhadap sesuatu yang sebenarnya menyimpang. Selain itu faktor kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga remaja lebih memilih bersama teman sebaya atau komunitas yang tanpa disadari oleh remaja itu sendiri dapat menjerumuskan dirinya dalam pergaulan bebas. Sementara itu, sebab sekunder diantaranya adalah faktor lingkungan masyarakat yang mana kurangnya figur positif dari guru, orang tua maupun pejabat pemerintah. Tidak adanya tempat penyaluran ekspresi dan bakat remaja yang tepat juga menjadi salah satu pemicu timbulnya kenakalan remaja.
2. Di zaman sekarang ini banyak sekali kenakalan yang dilakukan oleh para remaja. Jenis kenakalan remaja secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua yaitu kenakalan yang tergolong pelanggaran atau kejahatan yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau undang-undang lainnya dan kenakalan yang tergolong pelanggaran norma sosial dan norma-norma lainnya, tetapi yang belum/ tidak diatur dalam KUHP atau undang-undang lainnya, atau tingkah laku/ perbuatan anak-anak yang cukup menyulitkan atau cukup tidak dimengerti orangtua maupun masyarakat pada umumnya.
3. Akibat yang ditimbulkan kenakalan remaja bagi diri sendiri sangat berpengaruh pada psikologi remaja itu sendiri, dan bagi para orang tuanya. Jika anaknya berperilaku menyimpang, sebagai orang tua diharapkan jangan melakukan kekerasan karena hal itu malah akan berdampak pada terputusnya komunikasi antara keluarga dan remaja. Begitu pula dengan masyarakat yang sering menanggap remaja tidak memiliki moral karena seringnya mereka melakukan keonaran yang merugikan dirinya, maupun masyarakat.
4. Adapun upaya untuk mengatasi kenakalan remaja dalam masa sekarang ini adalah dengan mencari figur positif yang dapat dijadikan teladan oleh remaja. Motivasi dari orang tua, guru maupun teman sebaya juga dianggap perlu untuk memupuk semangat remaja untuk berubah. Sehingga pada akhirnya remaja dapat membentuk pertahanan diri yang baik agar tidak terpengaruh dengan teman sebaya atau komunitas yang cenderung bersifat negatif.
3.2 Saran
1. Orang tua diharapkan banyak membaca buku tentang keagamaan agar dapat mendidik dan membina anak tidak mengalami kesulitan.
2. Meningkatkan pembinaan moral terhadap remaja melalui pembinaan tentang keagamaan yang dilakukan orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama dan pemerintahan di masyarakat.
D. Gunarsa, Singgih (Ed) (1986). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gordon, Thomas (1975). P.E.T Parent Effectiveness Training, The Tested New Ways to Raise Responsible Children, New York: New American Library.
Jersild, A.T. & Alpern, G.D. (1972). The Psychology of Adolescence, New York: Macmillan.
____, (1972). Problema Kesehatan Jiwa Dewasa Ini, Malang: DKK Malang.
Sumber Lain :
www.sabdaspace.org
www.humanityfever.blogspot.com
www.erich91.blogspot.com
Sabtu, 30 Oktober 2010
Makalah Kenakalan Remaja
Diposting oleh PhAu-pHaU di 23.45
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar